Info Terbaru

Tuntunan Praktis Shalat Gerhana

Posted by On March 03, 2016

Tuntunan Praktis Shalat Gerhana
Apa yang tersaji dalam artikel di bawah ini adalah tuntunan dan tata cara shalat gerhana, baik kusuf  maupun khusuf atau shalat gerhana matahari dan bulan secara praktis.

Sebagaimana telah diinformasikan bahwa pada hari Rabu, 9 Maret 2016 akan terjadi gerhana Matahari total di sebagian wilayah Indonesia. Umat Islam, tidak terkecuali para guru dn peserta didik, disunnahkan untuk melaksanakan shalat gerhana ata yang disebut dengan shalat Kusuf.

Baca juga: SK Dirjen Pendis Pedoman MA Program Keterampilan

Pertama sekali yang perlu diketahui oleh pembaca setia Situs Berita Madrasah, Pendidikan dan Kemenag tentang Tuntunan dan tata cara Praktis Shalat Gerhana adalah bahwa dalam pelaksanaannya tidak dibedakan antara shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan. Keduanya sama-sama dikerjakan dua raka’at dengan masing – masing raka’at dua ruku’ dan dua sujud.

Kedua, adalah shalat gerhana dilaksanakan di masjid atau mushalla, tanpa azan maupun iqomah sebelumnya, hanya panggilan “Asholatu Jamiah”. Pengumuman tentang shalat gerhana dapat dikumandangkan di pasar-pasar maupun jalan-jalan dan tempat-tempat lain untuk memberitahukan kepada masyarakat luas.

Baca juga: Kisi-Kisi Ujian Praktek UAMBN Tahun Pelajaran 2015/2016 Untuk MTs Dan MA

Ketiga, shalat gerhana dimulai saat mulai terjadinya gerhana dan berakhir ketika gerhana berakhir. Dan apabila telah purna shalat gerhananya tetapi gerna belum berakhir maka disunnahkan untuk memperbanyak dzikir dan meminta ampun kepada Allah sampai berakhirnya gerhana.

Keempat, memanjangkan shalat, baik ketika berdiri, ruku’ ataupun sujud. Panjang berdirinya shalat gerhana kurang lebih sepanjang membaca surat Al-Baqarah.

Kelima, raka’at kedua dikerjakan lebih pendek dari raka’at yang pertama.

Keenam, hukum shalat gerhana adalah sunnah.

Secara ringkas Tuntunan Praktis Shalat Gerhanadapat di urutkan sebagai berikut :

  1. Berniat. Niat terletak di dalam hati dan tidak perlu dilafadzkan. Hal ini dikarenakan melafadzkan niat tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Bahkan Nabi tidak pernah mengajarkan lafadz niat pada shalat tertentu kepada para sahabat.
  2. Takbiratul ihram yaitu bertakbir untuk pertama kali guna mengawali shalat sebagaimana shalat biasa.
  3. Membaca do’a iftitah sebagaima do’a iftitah dalam shalat maktubah.
  4. Membaca surat Al Fatihah dengan diawali berta’awudz.
  5. Membaca ayat al-Qur’an yang panjang. Dapat dipilih surat Al-Baqarah misalnya.
  6. Kemudian ruku’ dengan memanjangkannya.
  7. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD”
  8. Setelah i’tidal kembali membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang.
  9. Lalu ruku’ untuk yang kedua, yang lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.
  10. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD”
  11. Kemudian mengerjakan dua sujud sebagaimana shalat maktubah tetapi dikerjakan dengan panjang.
  12. Selanjutnya bangkit dari sujud untuk mengerjakan raka’at kedua. Raka’at dikerjakan seperti halnya raka’at pertama, namun bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari raka’at pertama.
  13. Selesai mengerjakan raka’at kedua dilanjutkan dengan duduk tasyahud dengan bacaan seperti shalat yang lain.
  14. Salam.
  15. Terakhir adalah berkhutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak.
Baca juga: Surat Edaran Pakaian Dinas ASN Kemanag 2016

Demikian tuntunan, tata cara, dan panduan urutan shalat gerhana, baik kusuf, khusuf: matahari atau bulan, secara praktis dan mudah.

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »